Aku pernah bermimpi tentang aurora...
Di ladang gedung tua di samping sepeda ontel milik opa
Tempat asing,
tempat sunyi,
sendiri...
Senja yang lambat menghilang
Kabut-kabut enggan pergi bermain bersama angin-angin
Di bawah kaki gedung itu,
aku sembunyi,
berdiri,
sendiri...
Pernah kulangkahkan kaki sendiri...
Berjalan tanpa arah lalu tersenyum di tiap tempat yang kusinggahi
Keramaian seperti milikku
Toko-toko kerajinan di tepi jalan persinggahan yang paling kuminati
Aku bebas bertanya dan memilih
Walau yang kubawa, hanya segenggam batu lembut berukiran wajah kucing
Atau snow globe kecil tujuh senti di atas telapak tangan
Menghiasi gemerincing tas yang hanya berisi satu buku kecil beserta balpoin
Aku tetap bahagia membawanya pulang
Bersama keramaian seperti milikku
Sekejap aku mencari tempat sunyi untuk benar-benar sendiri
Terkadang benar-benar duduk di halte tua yang tidak terpakai lagi
Atau sekadar berjalan-jalan di pusat perumahan yang seakan tanpa penghuni
Rumah-rumah berornamen kayu unik yang tidak seperti kampung halamanku
Aku tetap semangat walau dengan satu petikan imajinasi
Pernah lelah bukan inginku
Setelah dua puluh jam tanpa henti
Ketika aku terdiam, seolah ada gumpalan yang tidak mengharuskanku kembali berjalan
Hening, hangat, membasahi
Jatuh bagai membuang racun
Mimpi, tidak ingin kembali
Membayangi, seakan semakin banyak misteri setelah ini
Pertanyaan itu tidak akan pernah berhenti, kecuali telah mati
Bersama kehidupan baru di balik puzzle yang masih terpotong-potong
Aku belum tau warnanya sebelum dibuka
Menunggu waktu semuanya akan terlihat
Apakah biru muda, seperti langit yang selalu kusanjungi
Atau hijau pekat seperti padang ilalang tempatku bersemedi
Atau... merah biru jingga bagai aurora?
Walau masih ada kehidupan di balik hitam
Meski bintang berjauhan
Tiga hal di buku kisahku yang pertama
Pengalaman, uang, kebebasan
Tiga hal di buku kisahku yang kedua
Pendidikan, mimpi, kebahagiaan
Tiga hal di buku kisahku setelah ini
...
...
...
Masih mencari kata yang pantas setelah semua tercabik, terangkai,
juga menghiasi
Atau mungkin semua kata tidak mampu lagi menganggung hal-hal
Wanita dengan pedal kemudi di jalan terjal
Melaju dan jatuh di tengah-tengah sawah yang baru digarap petani tua
Senyum ramah, belas kasih, harga menghargai
Harapan manusia dengan hati bagai berlian meski lumpur dijajaki
Tidak ada mimpi yang setara
Tidak ada kisah, kehidupan yang benar-benar sama
Tetap ada ujian di luar bangku sekolahan
Tetap ada batu di aspal licin sekalipun
Untuk sahabat yang darahnya telah kucampur milikku
Meski kelingking yang pernah terkait rapat sedang merenggang ribuan kilometer
Ingat saja bukit sepi di tepi jalan di belakang asrama kita tinggal
Rumput-rumput jarang, tanah yang keras, pohon yang setinggi tubuh kita
Kita duduk menjulurkan kaki di ujungnya
Menatap jalanan yang ramai kala sore, sunyi kala libur
Kereta api yang berjalan memanjang di seberangnya
Kita menghitung setiap jurusannya, dan sudah berapa kali ia lewat
Hal sederhana maupun kecil tetap lelucon besar yang entah kenapa geli sekali untuk dihamburkan
Kita gila tanpa alkhohol
Kita sakit tanpa bius
Aku bilang, "Hidup yang bikin kita gila
Hidup yang bikin kita sakit"
Kamu bilang, "Hidup yang bikin kita pantas tertawa lagi"
Untuk sahabat yang darahnya telah kucampur darahku
Tidak peduli masa nanti kau tetap sahabatku atau aku sendiri yang mengingkari jarak
Kenanglah... Kenanglah... Kenanglah...
Dan saat kau melihatku kembali, satu yang akan aku tau dari wajahmu
Air mata
Kita si bodoh yang sok gila
Manisku, pangeran tampan yang sering datang di buku kisahku yang terakhir ini,
bahagialah...
Tidak banyak kisahku bersama jantung hati, kecuali kamu
Beruntunglah karna satu kali kuberlabuh, tidak pernah kuberhenti ke pelabuhan lain lagi
Buku kisahku mungkin muak menyimpan namamu
Andai ia mampu bicara
Manisku, pangeran tampan yang sering datang di khayalku
Tidak ada kuda putih yang mengungguku di ujung pulau saat ini
Ia dengan kaos putih dan celana panjang putih
Berdiri menatap kejauhan dengan tangan terlipat di balik kaosnya
Menungguku, berlabuh...
Sahabatku, manisku, masa laluku,
Biarkan aku mengarungi pulau itu
Untuk melengkapi kisah-kisah yang kita juga tidak tau akan berakhir dimana
Saat aku masih bermimpi tentang aurora
Aku akan mengajarkan buah hatiku mengenal aurora
Warna-warna yang berarak di kepala kita, biarkan ia singgah atau berlalu
Berlian yang berkilauan tidak semua yang memandangnya indah
Begitu juga kisahku, kisah masing-masing kita
Midnight, on July 2017


Tidak ada komentar:
Posting Komentar